Selasa, 04 Desember 2018

Dampak Pembangunan Taman Jomblo Kota Jambi



Latar Belakang


Taman Jomblo ini awalnya hanya berupa trotoar di ruas Jalan Basuki Rahmat, dekat dengan kantor walikota Jambi. Sore hingga tengah malam biasanya trotoar ini dijadikan tempat jualan bandrek dan warung tenda.
            Walikota Jambi Sy Fasha menyulap trotoar tersebut menjadi taman. Aneka bunga ditanam di sana. Lantai trotoar pun didesain sedemikian rupa dan dicat warna-warni sehingga cantik dipandang mata. Taman tersebut diberi nama resmi Pedestrian Jomblo. Taman ini diresmikan oleh walikota Jambi SY.Fasha pada tanggal 27 Maret 2016.
            Taman ini dibuat, untuk menghapus dahaga warga Jambi akan tempat rekreasi. Sementara itu, Kepala Bagian Humas Setda Kota Jambi, Abu Bakar, menyatakan Jomblo bisa diartikan orang yang masih sendiri. Namun, Jomblo sebagai nama taman ini berarti Jambi Orang Melayu Bangkit Loh.
Fungsi didirikannya Taman Jomblo ini adalah:

            1. Sebagai media rekreasi keluarga
            2. Sebagai tempat olahraga karena juga disediakannya beberapa alat olahraga untuk kebugaran tubuh
            3. Sebagai objek wisata.

Dampak didirikannya Taman Jomblo        :

A.    Dampak Positif
1.    Dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat jambi
Terlihat disekitar lingkungan taman jomblo terdapat beberapa alat kebugaran seperti treadmill, sepeda, dan aneka peralatan lainnya yang dapat digunakan masyarakat secara gratis sehingga siapa saja dapat menggunakannya.


2.    Sebagai tempat media rekreasi keluarga
Sebelumnya karena minimnya taman di daerah kota jambi membuat masyarakat sulit untuk memilih tempat kumpul keluarga,namun pada saat adanya Taman Jomblo banyak keluarga yang berkumpul disini.


3.    Menghemat pengeluaran
Masyarakat jambi tidak perlu khawatir lagi untuk mengeluarkan uang untuk pergi ke warnet atau membeli kuota karena disini sudah disediakan wifi gratis untuk masyarakat kota jambi.






PENULISAN DAN PRESENTASI | ANALISIS PENULISAN JURNAL TEKNIK SIPIL BIDANG KONSTRUKSI

ANALISIS JURNAL TEKNIK SIPIL
BIDANG KONSTRUKSI


Ø   JURNAL 1
Judul            :  Analisis Keruntuhan Bangunan Indutri Pada Saat Proses Konstruksi
Penulis         :  Layalia Lathifah, Wisnumurti, M.Taufik Hidayat
Link Jurnal  :  http://sipil.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jmts/article/view/310/272


Penjelasan Jurnal
“Konstruksi adalah susunan (model, tata letak) suatu bangunan (jembatan, rumah, dan lain sebagainya)”, selain itu konstruksi adalah suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Konstruksi juga dapat didefinisikan sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur. Beberapa definisi konstruksi berdasarkan konteksnya perlu dibedakan atas dasar : proses, bangunan, kegiatan, bahasa dan perencanaan. Kegagalan konstruksi terjadi karena beberapa penyebab antara lain : banyaknya pihak yang terlibat, proses pelaksanaan yang unik, serta kondisi alam. Akibatnya, penyebab tersebut dapat menimbulkan permasalahan teknis maupun permasalahan non-teknis.
Struktur Baja Beberapa keuntungan dari baja sebagai bahan struktur adalah memiliki kekuatan tinggi, keseragaman, elastisitas, permanen, daktilitas, liat (Toughness) Baja strukur merupakan material yang liat artinya memiliki kekuatan dan daktilitas. Suatu elemen baja masih dapat terus memikul beban dengan deformasi yang cukup besar. Ini merupakan sifat material yang penting karena dengan sifat ini elemen baja bisa menerima deformasi yang besar selama pabrikasi, pengangkutan, dan pelaksanaan tanpa menimbulkan kehancuran. Baja sebagai bahan struktur juga mempunyai beberapa kelemahan atau kekurangan, antara lain adalah biaya pemeliharaan, biaya perlindungan terhadap kebakaran, rentan terhadap buckling, fatik, keruntuhan getas.

Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah dengan jelas menggambarkan isi jurnal secara global. Latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan jurnal sudah dicakup pada bagian abstrak ini. Tujuan penulis mengangkat materi ini adalah penulis ingin menjelaskan penyebab kegagalan pada saat proses konstruksi diantaranya adalah dengan belum terpasangnya semua bagian secara lengkap, mengakibatkan kestabilan struktur terganggu. Beracuan pada grafik hubungan tegangan-regangan baja, dimana adanya tegangan ijin, leleh dan batas.

Hasil dan Pembahasan
Pada bagian hasil dan pembahasan, penulis membuat analisis data dengan jelas beserta metode perhitungannya. Hasil dan Pembahasan Penulis membuat dua hipotesis yang memungkinkan menjadi penyebab runtuhnya bangunan saat proses konstruksi. Hipotesis tersebut antara lain adalah beban berlebih yang menyebabkan kekuatan struktur mencapai kondisi batas sehingga menimbulkan fraktur/putus atau lendutan yang besar, atau ada beban aktual yang tidak diperhitungkan dalam perencanaan.

Kesimpulan
Pada bagian kesimpulan, penulis membahas apa saja faktor-faktor penyebab kegagalan kosntruksi, salah satunya bangunan industri tersebut masih dalam proses konstruksi dengan belum terpasangnya semua bagian secara lengkap, mengakibatkan kestabilan struktur terganggu. Beracuan pada grafik hubungan tegangan-regangan baja, dimana adanya tegangan ijin, leleh dan batas. Dari data tersebut dapat diketahui berapa besar beban yang bekerja sehingga dapat merobohkan bangunan.

Kelebihan
¨     Penulis menambahkan tabel pada setiap perhitungannya, sehingga perhitungan jurnal cukup cukup jelas dan pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan  perhitungan yang dilakukan penulis.
¨  Penulis menambahkan contoh perhitungan disetiap analisisnya, sehingga memudahkan pembaca untuk lebih mengerti..

Kekurangan 
¨  Pada bagian kesimpulan, penulis kurang membahas lebih lanjut mengenai penyebab keruntuhan sehingga penjelasan yang ada lebih kepada penjelasan-penjelasan umum mengenai sifat baja. Penulis hanya menjelaskan bahwa penyebab keruntuhan adalah karena adanya beban angin yang besar pada saat pembangunan sedang berjalan.



Ø   JURNAL 2
Judul           : Analisis Wilayah Tergenang dan Perilaku Banjir pada Simulasi Kegagalan Bendungan Ciawi
Penulis        : Dandi Wirustyastuko, Joko Nugroho
Link Jurnal : http://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/2850/1437



Penjelasan Jurnal
Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau melimpah dari bendungan sehingga air keluar dari sungai itu.

Bendungan selain dapat berperan sebagai faktor yang dapat meningkatkan kemampuan (capacity) dalam menurunkan resiko terhadap bencana, bendungan dapat pula menjadi sebuah faktor ancaman bencana (hazard) baru. Bencana banjir besar dapat menjadi sebuah bencana baru bila sebuah bendungan mengalami keruntuhan. Air yang tertampung oleh bendungan akan mengalir menuju hilir bendungan dengan karateristik debit yang sangat besar serta kecepatan yang tinggi. Bila kapasistas tampung alur sungai tidak mampu menampung aliran maka air akan meluap ke arah kanan dan kiri dari alur sungai dan dapat menggenangi daerah hilir bendungan yang umumnya padat penduduk.

Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah dengan jelas menggambarkan isi jurnal secara global. Latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan jurnal sudah dicakup pada bagian abstrak ini. Tujuan penulis mengangkat materi ini adalah penulis ingin menyajikan hasil analisis wilayah yang berpotensi terkena genangan banjir apabila Bendungan Ciawi mengalami kegagalan dan membuat peta daerah bahaya bencana banjir. Analisis wilayah tergenang dan perilaku banjir dalam studi ini menerapkan program ZhongXing HY-21 untuk membuat hidrograf aliran keluar dari bendungan, menganalisis tinggi genangan dan cepat rambatan banjir serta mengetahui sebaran wilayah yang terkena genangan.

Hasil dan Pembahasan
Pada bagian hasil dan pembahasan, penulis membuat analisis data yaitu analisis hidrologi, analisis spasial, analisis kerusakan bangunan, analisis penelusuran hidronamik banjir, analisis sebaran wilayah genangan dan resiko, analisis luas area dan genangan, analisis resiko genangan. Penulis dengan rinci menjelaskan dengan seksama analisis penyebab banjir sehingga dapat diketahui seberapa besar resiko wilayah yang terkena dampak banjir.

Kesimpulan
Pada bagian kesimpulan, penulis dengan jelas menyimpulkan hasil jumlah wilayah yang terkena dampak genangan pada skenario kasus overtopping ; piping dengan inflow ; dan piping tanpa inflow untuk masing – masing kasus adalah 21 Kecamatan dari 6 Kabupaten; 20 Kecamatan dari 6 Kabupaten; dan 9 Kecamatan dari 2 Kabupaten, total Penduduk Terkena Resiko (Penris) Bencana terbesar untuk skenario kasus overtopping diperkirakan sebanyak 7.80.321 jiwa atau sebanyak 1.56.064 KK, klasifikasi bahaya bencana untuk daerah hilir Bendungan Ciawi secara umum termasuk dalam kategori dengan nilai 3 (Tingkat Resiko Menengah) dan kategori Daerah Bahaya Bencana 3 (tinggi genangan > 2 m), debit outflow maksimum pada saat terjadi rekahan akibat keruntuhan Bendungan Ciawi untuk skenario kasus overtopping ; piping dengan inflow ; dan piping tanpa inflow masing – masing adalah 31901,9 m 3 /s (pada waktu ±0,78 jam saat proses keruntuhan) ; 83690,9 m3 /s (pada waktu ±0,52 jam saat proses keruntuhan) ; dan 75503,2 m3 /s (pada waktu ±0,548 jam saat proses keruntuhan).

Kelebihan
¨   Penulis menambahkan grafik pada setiap perhitungannya, sehingga tampilan jurnal cukup menarik dan pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan perbandingan perhitungan yang dilakukan penulis.
¨   Penulis menambahkan gambar kontur dan gambar profil, sehingga tampilan jurnal cukup menarik dan pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan perbandingan perhitungan yang dilakukan penulis.

Kekurangan
¨  Penulis tidak mencantumkan contoh perhitungan, yang ada hanya tabel dengan hasil pengolahan data yang membuat perhitungan jurnal kurang dimengerti pembaca.
¨     Kurang lengkapnya format penulisan jurnal karena tidak sesuai dengan tahapan perencanaan penulisan jurnal.




Ø   JURNAL 3
Judul            :  Perencanaan Embung Blorong Kabupaten Kendal, Jawa Tengah
Penulis         : Muhammad Erri Kurniawan, Yudha Satria, Sugiyanto dan HariBudieny

Penjelasan Jurnal
Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.

Abstrak
Berdasarkan abstrak yang telah dibaca, pembaca menyimpulkan bahwa abstrak tersebut sesuai dengan permasalahan yang ada yaitu kekurangan air pada puncak musim kemarau antara bulan September sampai bulan Oktober. Data yang disajikan penulis sesuai dengan data yang diberikan oleh stasiun pengamatan hujan wilayah DAS Embung Blorong.

Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan yang dilakukan penulis yaitu perhitungan debit banjir rencana yang digunakan adalah metode Hidrograf Sintetik Satuan (HSS) Gama I dengan periode ulang 25 tahun Q25 503,756 m3/detik. Embung Blorong direncanakan dengan tinggi 19 meter (elevasi +58 m) yang memiliki volume efektif tampungan 1.589.706 m3 dengan bangunan pelimpah pada elevasi +53 m dan menggunakan kolam olakan USBR tipe IV. Rencana Anggaran dan Biaya untuk pembuatan Embung Blorong sebesar Rp. 24.242.419.000,00.

Kesimpulan
Dari semua isi jurnal penulis sudah menjelaskan secara detail dari tujuan jurnal tersebut. Dengan demikian, kesimpulan dari jurnal tersebut adalah Embung Blorong dapat memberikan suplai air pada saat puncak musim kemarau yaitu pada bulan September dan Oktober bagi Daerah Irigasi Kedung Pengilon, perhitungan debit banjir rencana yang digunakan adalah metode Hidrograf Sintetik, satuan (HSS) Gama I dengan periode ulang 25 tahun Q25 503,756 m3/detik, Embung Blorong direncanakan dengan tinggi 19 meter (elevasi +58 m) yang memiliki volume efektif tampungan 1.589.706 m3 dengan bangunan pelimpah pada elevasi +53m dan menggunakan kolam olakan USBR tipe IV, rencana Anggaran dan Biaya untuk pembuatan Embung Blorong sebesar Rp.24.242.419.000,00.

Kelebihan
¨    Penulis menggunakan bahasa penulisan yang dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca.

Kekurangan
        ¨      Kurang lengkapnya format penulisan jurnal karena tidak sesuai dengan tahapan perencanaan penulisan jurnal.




Ø   JURNAL 4
Judul       : Pengaruh Rasio Tulangan Bambu Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang Bambu  Dengan Campuran Serat Bambu Dan Agregat Kasar Batu Apung
Penulis        : Muhammad Faizal, Sri Murni Dewi, Christin Remayanti N

Penjelasan Jurnal
Bambu merupakan suatu bahan bangunan yang diperoleh dari hasil penebangan rumpun-rumpun bambu di hutan rimba alami atau hasil budidaya. Diametersdfdan ukuran panjang batang tergantung dari jenis bambu yang dapat tumbuh hampir di seluruh daerah Indonesia. Secara botani12bambu adalah jenis rumput-rumputan monokotil yang tumbuh liar merumpun dan meraksasa. Sifat mekanika!bambu yaitu modulus elastisitas berkisar (2,38-10,10) GPa, kuat tekansdfsejajar serat berkisar (29,33- 58,43)MPa, kuat tarik sejajarsdarah serat berkisar (115,3-309,3)MPa, kuat lentur bambu berkisar (12,83-66,3) MPa,dkuat geser berkisar (3,95-6,14) MPa, dan kuat belah berkisar (4,14-5,82) MPa.

Balok merupakan elemena struktur yang identik menahan lentur. Komponenkomponensdbalok beton bertulang yang berperan dalam menahan lentur yaitu teganganrtbeton, dan tegangan tulangan baja.

Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah cukup jelas dalam menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh sang penulis. Penulis melakukan penelitian dengan maksud menentukan apakah rasio tulangan bambu berpengaruh terhadap kuat lentur balok beton bertulang bambu dengan campuran serat bambu dan agregat kasar batu apung. Sedangkan tujuan dari sang penulis berharap bahwa mereka dapat menciptakan suatu inovasi baru untuk rumah tahan gempa demi kemajuan teknologi dibidang teknik sipil.

Hasil dan Pembahasan
Penulis membuat suatu inovasi dalam campuran beton ringan untuk membuat rumah tahan gempa karena semakin ringan suatu beton akan berpengaruh terhadap gaya gempa yang terjadi. Campuran beton ringan yang digunakan ialah batu apung sebagai agregat kasarnya, serat bambu sebagai campuran beton, dan bambu sebagai tulangannya untuk mengetahui kuat lentur antara pengaruh rasio tulangan bambu terhadap kuat lentur balok beton bertulang bambu. Dari percobaan yang telah dilakukan oleh penulis didapatkan rasio tulangan bambu dapat meningkatan beban maksimum balok, namun tidak signifikan karena hanya 10,7% - 11,4% dan rasio tulangan bambu 1,5% dapat menurunkan lendutan yang terjadi pada benda uji balok saat kondisi elastis sebesar 17,5% - 39,4%, serta meningkatkan kekakuan sebesar 18,5 % - 62,9%. Nilai rata - rata lendutan dan kekakuan pada kondisi elastis yang dapat ditahan oleh balok dengan rasio tulangan bambu 1,5% sebesar 0,27 mm dan 793,87 kg/mm.
Berdasarkan analisis dan perhitungan ulang yang telah dilakukan baik perhitungan, data maupun grafik dari hasil perhitungan tidak ditemukan suatu kesalahan. Itu berarti pengujian yang dilakukan oleh sang penulis sudah sesuai dengan penulisan tersebut.

Kesimpulan
Dari semua isi jurnal penulis sudah menjelaskan secara detail dari tujuan percobaan tersebut. Dengan demikian, bila suatu jenis tanah lempung ekspansif di campurkan dengan bahan adiktif akan mempengaruhi peningkatan nilai daya dukung tanah. Semakin besar jarak antar kolom, nilai daya dukung semakin menurun. Sedangkan, semakin besar panjang kolom, nilai daya dukung semakin meningkat.

Kelebihan
¨   Penulis menambahkan grafik pada setiap perhitungannya, sehingga tampilan jurnal cukup menarik dan pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan perbandingan perhitungan yang dilakukan penulis.
¨    Penulis menggunakan bahasa penulisan yang dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca.

Kekurangan
¨   Penulis tidak mengecek kembali jurnal, sehingga banyak beberapa kata yang salah penulisan.
¨ Penulis tidak mencantumkan contoh perhitungan, yang ada hanya tabel dengan hasil pengolahan data yang membuat perhitungan jurnal kurang dimengerti pembaca.
¨  Kurang lengkapnya format penulisan jurnal karena tidak sesuai dengan tahapan perencanaan penulisan jurnal.




Ø   JURNAL 5
Judul            : Pengaruh Lebar Pondasi dan Jarak Lapis Geogrid ke Pondasi Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir pada Pondasi Menerus  
Penulis         : Muhammad Satria Bayu Aji, Arief Rachmansyah, As’ad Munawir

Penjelasan Jurnal
Geogrid adalah bahan Geosynthetic yang digunakan untuk memperkuat tanah. Geogrid biasanya digunakan untuk memperkuat sebagai dinding penahan, serta subbases atau subsoils bawah jalan atau bangunan. Sebagai pemisah tanah dibawah ketegangan. Dibandingkan dengan tanah, geogrids kuat dalam ketegangan. Hal ini memungkinkan geogrid mentransfer kekuatan untuk area yang lebih besar dari tanah untuk menghindari hal buruk yang akan terjadi.

Dalam penelitiannya oleh Nurly Gofar dan Bakrie Oemar (1990) juga pada penelitian Manfred R. Hausman (1990)disimpulkan bahwa dasar dari pemakaian geogrid adalah pembentukan ikatan antara bahan pengisi (tanah) dan elemen perkuatan geosintetis akibat terjadinya gesekan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa gesekan yang terjadi pada dasarnya merupakan fungsi dari sifat bahan perkuatan atau geogrid itu sendiri dengan besarnya butiran tanah.

Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah dengan jelas menggambarkan isi jurnal secara global. Latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan jurnal sudah dicakup pada bagian abstrak ini. Tujuan penulis mengangkat materi ini adalah penulis ingin mengetahui apa saja yang mempengaruhi kinerja geogrid agar dihasilkan peningkatan daya dukung tanah yang maksimal. Dengan perbandingan berbagai variabel bebas dalam perhitungan daya dukung tanah berupa variasi jarak geogrid ke pondasi dan variasi lebar pondasi.

Hasil dan Pembahasan
Pada bagian hasil dan pembahasan, penulis membuat perhitungan untuk mencari daya dukung tanah dan membandingkan hasilnya dengan ketiga variabel bebas yang telah dikerjakan sebelumnya. Selain membandingkan daya dukung tanah antar variabel bebas, penulis juga menjelaskan mengenai perhitungan daya dukung tanah tanpa perkuatan. Penjelasan mengenai daya dukung tanah dijelaskan secara terperinci dan jelas, penulis juga melengkapi perhitungan dengan grafik yang menggambarkan hubungan antara variabel bebas dengan daya dukung tanah. Sehingga pembaca dapat dengan mudah melihat hasil perhitungan yang memiliki daya dukung tanah terbesar.

Kesimpulan
Pada bagian kesimpulan, penulis menyimpulkan bahwa semakin lebar ukuran pondasi dan semakin besar jarak dari geogrid ke pondasi maka daya dukung tanah yang dihasilkan akan semakin besar. Sehingga dalam perhitungan ini daya dukung tanah terbesar adalah saat ukuran lebar pondasi 10 cm dan jarak geogrid ke pondasi sebesar 0,75B.

Kelebihan
¨   Penulis menambahkan grafik pada setiap perhitungannya, sehingga tampilan jurnal cukup menarik dan pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan perbandingan perhitungan yang dilakukan penulis.

Kekurangan
¨  Penulis tidak mencantumkan contoh perhitungan, yang ada hanya tabel dengan hasil pengolahan data yang membuat perhitungan jurnal kurang dimengerti pembaca.
¨    Kurang lengkapnya format penulisan jurnal karena tidak sesuai dengan tahapan perencanaan penulisan jurnal.
¨    Kurangnya analisis terhadap data dan kesimpulan yang didapat dari penelitian ini. Sehingga pembaca tidak mengetahui alasan mengapa lebar pondasi tebesar dan jarak geogrid dengan  pondasi terbesar akan menghasilkan daya dukung tanah terbesar.


Rabu, 07 November 2018

PENULISAN DAN PRESENTASI | MAKALAH STUDI KASUS KEGAGALAN STRUKTUR JEMBATAN KARTANEGARA

KEGAGALAN STRUKTUR 
JEMBATAN KARTANEGARA


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1             Latar belakang
Negara Indonesia adalah negara kepulauan, di mana kebutuhan transportasi antar pulau memang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian antar pulau dimana perlu dibuat suatu tannspotasi penghubung antar pulau seperti kapal laut dan jembatan penghubung. Selain itu hubungan transportasi antar daerah yang terpisah oleh sungai atau danau juga perlu dibuatkan alat penghubung seperti jembatan agar dapat meningkatkan kebutuhan perekonomian dari kedua daerah yang terpisah tersebut. Apalagi di era globalisasi yang semakin  pesatnya perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat akan transportasi dan perhubungan akan semakin kuat. Hal ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan kegiatan perekonomian yang mengglobal, yang mengakibatkan masyarakat harus saling berinteraksi satu sama lain walaupun terhalangi oleh sungai, bahkan laut.
Sebagai alat penghubung, jembatan  harus mempunyai stuktur yang kuat yang dapat memberikan keselamatan bagi masyarakat pengguna. Akan tetapi, tidak semua pembangunan jembatan sesuai dengan standar perencanaan, hal ini dikarenakan oleh kondisi, dana, keahlian pekerja, kualitas bahan yang digunakan, dan sebagainya. Akibat dari pembangunan jembatan yang tidak sesuai standar perencanaan, maka terjadi kegagalan konstruksi yang dapat merugikan masyarakat dan pemerintah.
Salah satu contoh kegagalan konstruksi jembatan terjadi pada jembatan kukar atau tenggarong atau jembatan Mahakam II. Kegagalan konstruksi ini mengakibatkan kurang lebih 20 orang tewas, dan puluhan orang lainya luka-luka.
Untuk mengetahui sebab terjadinya keruntuhan jembatan Tenggorong, maka diperlukan  tinjauan lapangan untuk meneliti penyebabnya. Permasalahan konstruksi yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya dapat dijadikan pedoman dalam pembangunan selanjutnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, sehingga kami tertarik untuk mengetahui tentang Jembatan Kutai Kartanegara.


1.2 Rumusan Masalah
Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Apakah penyebab terjadinya keruntuhan Jembatan Kartanegara tersebut?
2. Apa saja akibat yang ditimbulkan dari keruntuntuhan jembatan tersebut?
3. Apa solusi yang harus diberikan agar kejadian ini tidak akan terulang kembali


1.3 Tujuan pembuatan makalah
1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya keruntuhan jembatan Kartanegara.
2. Untuk mengetahui akibat yang ditimbukan dari keruntuhan jembatan Kartanegara.
3. Untuk mendapatkan solusi yang tepat agar kejadian ini tidak akan terulang kembali.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Jembatan Kartanegara
Jembatan berlokasi di Kalimantan: Lokasi, yang mana dalam zona gempa Indonesia ada dalam kategori zona aman. Jadi, tipis kemungkinan seperti Peace River Bridge yang kolaps karena pergeseran tanah dibawah konstruksi.
Jembatan baru berumur 10 tahun: Biasanya sebuah jembatan didesain untuk umur 30-50 tahun, kecuali ada perubahan beban diatasnya maka perlu ditinjau. Maksudnya, semisal desai awal jembatan adalah untuk dilewati beban bergerak (kendaraan) sekitar 100 kendaraan per hari kemudian dikenyataannya adalah 200, tentu sudah tidak memenuhi syarat rencana awal desain. Hal ini secara langsung berhubungan dengan umur jembatan.
Penyebab utama kegagalan konstruksi tidak mencapai umur awal rencana:

1. Kesalahan Desain Awal (Pihak Perencana)
Untuk perencanaan Jembatan, tentu ada standar yang mesti kita ikuti, misalnya, kalau merencanakan Jembatan  harus berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), ikutilah ketentuan desain dan parameternya, bagaimana perhitungan pembebanan (pertimbangan beban mati/berat konstruksi, beban bergerak (beban yang bergerak diatasnya), beban angin, gempa dsb.). Sehingga kekuatan rencana awal Jembatan bisa direalisasikan, dan kesalahan dalam hal pemilihan material (tulangan, baut, bantalan elastomer, kabel untuk jembatan tipe suspense, dlsbg.) bisa dihindari.

2. Penyimpangan Pelaksanaan di Lapangan (Tim Pengawas Lapangan)
Penyimpangan pelaksanaan berarti: ketidaksesuaian spesifikasi teknik dan material. Maksudnya, kesalahan pemasangan atau kesalahan pada material tidak seperti rencana. Kesalahan pemasangan terjadi jika pelaksana lapangan lalai, atau mungkin tidak mengerti membaca gambar (kerja di lapangan tapi tidak mengerti gambar?). Kemudian, kesalahan penggunaan bahan: tentu berbeda menggunakan tulangan ukuran 10 dengan 8 apalagi kalau sampai mengurangi jumlahnya, juga kualitas dari merek satu dengan yang lain.

3. Perawatan  (Pihak Maintenance)
Semua ada umurnya, dan untuk itu perlu perawatan berkala untuk tetap mengantisipasi kerusakan atau perubahan berkala yang terjadi pada konstruksi (misalnya, retak karena beban yang diterima jembatan meningkat atau karena umur material, dsb). Walau pada kenyataannya, bagian perawatan ini masih sering diabaikan, tapi justru tidak kalah penting bila dibanding desain awal.


BAB III
PEMBAHASAN


 3.1 Analisis penyebab kegagalan konstruksi
Jembatan Kutai Kartanegara adalah salah satu Jembatan yang dirancang dengan menggunakan cable-suspension sebagai konstruksi utamanya yang berfungsi sebagai penahan sekaligus penyalur tegangan-tegangan yang terjadi yang diakibatkan beban-beban statis ataupun juga beban-beban dinamis. Dimana dalam perhitungan konstruksi jembatan biasanya diistilahkan dengan Beban Mati (Dead Load) dan beban hidup (live Load)
Selain kedua istilah beban tersebut masih ada istilah lain untuk beban-beban yang biasa terjadi dan harus diperhitungkan antara lain beban angin (Wind Load) dan beban yang disebabkan oleh gempa (Seismic Load) serta masih adalagi tetapi jarang diperhitungkan yaitu Resonansi Load yang disebabkan pengaruh dari suatu bunyi yang cukuup keras dan  bisa menimbulkan getaran pada kontruksi jembatan, terjadi pada tempat-tempat tertentu yang sering dilanda angin kencangatau badai. Dalam analisis perhitungannya beban-beban tersebut harus dikombinasikan antara satu dengan yang lain berdasarkan aturan-aturan yang sudah baku dan telah ditetapkan sebagai peraturan-peraturan yang ahrus diikuti dan dilaksanakan.
          Adapun yang dimaksud beban mati di atas adlah semua bagian komponen atau material konstruksi yang bersifat tetap dan terus menerus membebani keberadaan konstruksi tersebut. Untuk beban hidup umumnya merupakan beban segala macam kandaraan yang melintas dan mempengruhi konstruksi tersebut sewaktu pada saat berada diatasnya. Sedangkan beban angin dan beban gempa sifatnya temporary tetapi tetap harus ada dalam analysisnya.
Mengamati dan mencermati dari insiden kagagalan konstruksi pada jembatan kutai Kartanegara yang terjadi pada hari sabtu tiga hari yang lalu berdasarkan keterangan saksi-saksi pada saat terjadinya insiden kegagalan konstruksi, secara teoritis ada dua hal yang dapat menyebabkan hal tersebut
1.    Pertama, akibat adanya pengruh maitenance atau pemeliharaan (saat insiden terjadi maitenence/pemeliharaan sedang berlangsung).
2.    kedua adanya peningkatan beban hidup yang bisa menjadikan terjadinya kelebihan beban (over load). Untuk alasan pertama kemungkinannya sangat kecil karena umumnya maintenance atau pemeliharaan dilakukan dengan tidak mengganti atau merubah konstruksi utama jembatan.
            Bagaimana dengan kemungkinan kedua hal ini terjadi secara tidak langsung akibat dari adanya maintence/pemeliharaan dikarenakan adanya buka tutup salah satu sisi jalan pada jembatan sehingga menyebabkan perlambatan dan bahkan bisa kemacetan kendaraan yang berpengaruh pada peningkatan beban pada salah satu sisi yang lain hal ini bisa membuat lantai jembatan miring tegak lurus sisi arah jalan pada jembatan ini sesuai dengan keterangan salah seorang saksi yang melihat terjadinya kemiringan sisi jembatan pada saat insiden. Mungkin hal ini penyebabnya?
Jika dilihat dari kontruksinya yang terbagi menjadi beberapa macam kontruksi yaitu Kontruksi utamanya, pertama adalah pondasi atau pilar, pada jembatan Kartanegara ini meskipun ada sedikit cacat, tetapi tetap kokoh berdiri, dalam hal ini tentunya bukan menjadi penyebab kegagalan kontruksi pada jembatan Kartanegara ini. Kedua block beton penahan angkur cable tetap ada serta masih kokoh dan demikian pula cable suspensionya tetap menempel serta tergantung pada pilar utama, sekalipun ada informasi block beton sedikit ada keretakan dan pergeseran tetapi hal itu sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya, indikasi itu bisa dicermati pernah adanya pelebaran pada perletakan girder salah satu sisi yang terletak di Tenggarongnya.
Kalaupun hal tersebut terjadi karena kegagalan end blok ternyata konstruksi rangka tetap tergantung pada tempatnya dan tidak secepat hitungan detik jatuhnya bersamaan ke sungai serta adanya bekas dari pergeseran tersebut. Dalam suatu kesempatan sertfikasi konstruksi pada 2004 di kota  Samarinda, salah satu mentornya yang cukup mengetahui dalam perancangan jembatan tersebut menyebutkan secara teknis bahwa untuk sistem pembagian distribusi pembebanan pada jembatan kutai Kartanegara, terbagi 2, yaitu: rangka baja dengan bentang 270 meter tersebut merupakan konstruksi penahan untuk semua beban mati yang disalurkan ke pilar utama dan selanjutnya ke pondasi. Dan cable suspension utama sebagai penahan konstruksi semua beban hidup untuk disalurkanke pilar dan seterusnya ke pondasi.
Pada saat sebelum terjadinya keruntuhan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang melintas dalam ini merupakan beban hidup. Tentunya akan diterima calbe suspension-nya sebagai penyalur utama tegangan yang timbul dari akibat hal itu. Yang sangat menarik kiranya untuk dicermati adalah semua beban hidup dari kendaraan yang akan disalurkan ke cable suspension harus melewati kontruksi yang biasa disebut tie-rod/hanger atau penggantung. Titik terlemah pada konstuksi tie-rod/hanger ini terletak pada derat bautnya dan pada clampnya. Jika kita mengamati keruntuhan dilokasi insiden, hampir-hampir tidak tampak dari sisa-sia  kontruksi tie-rod/hanger atupun penggantung tersebut, jika disebabkan derat bautnya dapat dipastikan sekurang-kurangnya masih tetap tergantung dan berada pada tempat terkoneksinya di cable-suspension, sementara clamp-clampnya juga tidak tersisa. Sangatlah sayang jika hal ini dikesampingkan begitu saja, terutama pada kekuatan material clamp-nya yang pantas untuk dicurigai sebagai penyebabnya.
Dugaan lain, Kolapsnya jembatan yang sedang dalam tahap perawatan ini, menurut mas Eko dalam tulisannya bahwa, “pertama tali yang putus dari tengah kemudian secara beruntun tali-tali di sisi lainnya mengikuti putus dan runtuh”.
Dugaan sementara bahwa kegagalan konstruksinya ada pada clamp cable hanger nyayang tidak lagi sanggup menahan perubahan beban. Perubahan beban bisa disebabkan: saat adanya perawatan yang disebut, pengalihan beban pada sisi tertentu jembatan membuatnya tidak imbang (terpusat), sementara, kondisi tekanan angin mungkin menambah tekanan pada kabel, dan dalam kondisi itu, ada baut yang aus, lalu putus.Disisi lain, ada yang menduga bahwa tiang utama penyangga bergeser dari pondasi, pemikiran ini tentu juga memungkinkan kearah kabel vertikal tertarik dan kemudian putus.


Hasil analisis kami,
Analisis yang kami dapatkan sesuai data-data yang kami peroleh, kemungkinan utama pada saat perawatan, penutupan salah satu sisi jalan yang mengkibatkan beban berat sebelah dan ditambah beban angin selain itu kondisi baut kabel dan kualitasnya dapat mempengaruhi ambruknya jembatan kerta negara ini, karena saat jembatan kelebihan beban pada salah satu sisi baut lepas dari tengah terus ke samping, dan kabel vertikal kondisinya masih baik (tidak putus) . Ambruknya salah satu bagian jembatan mengakibatkan pilon condong ke bagian yang belum ambruk, dan sisi sebelah jembatan yang belum ambruk harus menahan beban sindiri, akibatnya sisi inipun juga ambruk.


3.2 Akibat yang ditimbulkan dari keruntuhan jembatan Kartanegara
Ambruknya Jembatan Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, membawa kecemasan atas rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). Ahli konstruksi harus menutup kemungkinan kegagalan untuk pembangunan jembatan penghubung Pulau Jawa dan Sumatera ini.
Direktur Bangungraha Sejahtera Mulia (BSM) Agung R. Prabowo memastikan pihaknya akan ikut membangun JSS dengan prinsip kehati-hatian. Anak perusahaan Artha Graha Network ini hampir dipastikan menjadi ketua konsorsium pembangunan JSS. Sebelumnya, PT BSM telah melakukan prastudi kelayakan JSS bersama Pemprov Lampung dan Banten.
’’Pasti kami harus melakukan yang bagus, mulai desain dan lain-lain. Ini jembatan besar sekali. Studi yang dilakukan ke depan akan sebaik mungkin, lebih fokus,’’ ujar Agung kepada Radar Lampung melalui telepon genggamnya kemarin (30/11).
Dengan tidak mengecilkan konstruksi Jembatan Tenggarong, Agung menyatakan bahwa JSS direncanakan lebih matang dengan standar mutu tinggi. Ditegaskan, mekanisme pembangunan jembatan tidak dapat dipisahkan. Mulai rancangan, desain, konstruksi, hingga pemeliharaan menjadi satu paket yang tidak terlepas. ’’Semua tahap harus dilakukan dengan cermat,’’ ujarnya.
Dijelaskan, desain dan material untuk JSS dipilih yang mampu bertahan lama. Pemeliharaan jembatan sepanjang kira-kira 30 kilometer ini juga tidak dapat dilakukan sembarangan. Jika JSS telah beroperasi, akan diberlakukan structural hold monitoring system atau sistem pemantauan struktural yang berkelanjutan.
’’Itu nantinya computerize. Jadi bisa mendeteksi yang akan terjadi. Terutama terkait peringatan dini, di mana tingkat korosi yang tinggi akibat kadar garam air laut. Jadi nanti juga maintenance (perawatan) antikarat,’’ papar dia.
Pemeliharaan yang akan dilakukan, imbuhnya, akan dilaksanakan setiap tahun. Teknisnya, sepanjang tahun akan dilakukan perawatan jembatan sepanjang 30 kilometer dengan bolak-balik dari Lampung ke Banten dan sebaliknya. ’’Jadi pemeliharaan akan dilakukan secara terus-menerus,” pungkasnya.
Terpisah, Sekretaris Umum Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI) Lampung I.B. Ilham Malik mengatakan, pembangunan JSS memang harus belajar dari Jembatan Tenggarong. Selain itu, juga harus belajar dari Jembatan Suramadu di Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya dan Madura.
’’Untuk pembangunan JSS, kami berharap, tutuplah kemungkinan kegagalan-kegagalan itu. Kita harus belajar dari dua jembatan itu,” kata Ilham di Graha Pena Lampung.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Lampung itu menambahkan, selama ini media massa tidak pernah memublikasikan kegagalan Jembatan Suramadu. Faktanya, kata dia, sampai hari ini tidak ada satu pun kendaraan barang boleh melewati jembatan itu.
Menurut dia, itu menandakan bahwa memang ada metode pelaksanaan yang tidak memenuhi kaidah-kaidah konstruksi. Jika memang saat akan dibangun Jembatan Suramadu diorientasikan agar kegiatan industri berkembang di dua kawasan tersebut, maka seharusnya kendaraan-kendaraan barang dapat melintasinya.
’’Kenapa nggak boleh melalui (jembatan) itu? Alasannya mungkin untuk menjaga kapal penyeberangan tetap eksis. Saya kira itu tidak masuk akal,” ujar akademisi Universitas Bandar Lampung ini.
Ilham menyimpulkan, Jembatan Suramadu masuk ke dalam fase kegagalan pelaksanaan karena ternyata tidak bisa dilalui truk barang. Begitu juga dengan ambruknya Jembatan Tenggarong. Dia yakin fase perencanaan dua jembatan ini sudah sangat baik. Kegagalan dua jembatan itu berada pada pelaksanaan.
’’Kami sangat tidak berharap seperti kejadian Jembatan Tenggarong yang baru berapa tahun dibangun kemudian ambruk. Jembatan ini gagal dari sisi pelaksanaan dan pemeliharaan. Jadi kami harap pelaksanaannya (JSS) akan baik,” kata Ilham.
Pasalnya, perencanaan JSS yang didesain Prof. Wiratman Wangsadinata ini memang sangat baik. Mulai dari sisi desain hingga uji kelayakannya. “Tinggal pelaksanannya nanti, bisa tidak, mengikuti seperti yang direncanakan,” ujarnya,
Ia mengira, Jembatan Tenggarong direncanakan dengan sangat visible dan sesuai kaidah-kaidah konstruksi. Terkait ini, dia berharap, JSS tidak dibangun hanya sebagai proyek mercu suar. Jika memang menarik, pembangunan semestinya dilakukan saja murni kepada investor.
Jika pemerintah yang ingin membangun, dia meminta pembangunan dilakukan konsisten seperti yang direncanakan. Ilham yakin jika JSS dibangun oleh swasta, dan tidak menggunakan utang luar negeri atau dana dari pemerintah, jembatan ini bisa eksis. Saat ini, kata dia, pemerintah menggadang-gadang jss, sementara sumber dananya belum jelas.
    “Memangnya, kalo ground breakingnya itu selesai, maka jss cepat dibangun? Belum tentu. Karena pertanyaannya, siapa yang mau beri kita utang? Perbankan atau pemerintah luar negeri?” tandasnya.
Jika belajar dari Jembatan Suramadu, yang memberi utang atas pembangunan itu adalah pemerintah Tiongkok. Dan sebanyak 50 persen dari pelaksana konstruksinya juga dilakukan oleh pengusaha dari Tiongkok. Sehingga kemudian terbangunlah Jembatan Suramadu, walaupun hasilnya ternyata tidak dilalui oleh kendaraan barang.
’’Hanya kendaran pribadi. Itu namanya proyek mercusuar,” imbuh dia.
Untuk JSS, lanjutnya, jika nantinya pemerintah Tiongkok kembali memberikan investasi, maka hasilnya benar-benar harus diperjelas. Apakah ini nanti kereta api ada di atas jembatan, atau hanya rel. ’’Jadi harus bisa dijamin ini bisa dilewati truk dan kereta api,” pungkasnya.


BAB IV
PENUTUP



  4.1 Kesimpulan

1.  Terdapat empat beban yang harus diperhitungan konstruksi :
a. Beban Mati (Dead Load)
b. Beban Hidup (Live Load)
c. Beban Angin (Wind Load)
d. Gempa (Seismic Load)
2. Penyebab–penyebab kegagalan konstruksi
a. akibat adanya pengruh maitenance atau pemeliharaan (saat insiden terjadi  maitenence/pemeliharaan sedang berlangsung).
b.    adanya peningkatan beban hidup yang bisa menjadikan terjadinya kelebihan beban      (over load). Yang mengakibatkan kabel vertikal terputus dari kabel utama.
3.Akibat yang ditimbulkan
a.  membawa kecemasan atas rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).
b.  kurang lebih 20 orang tewas, dan puluhan orang lainya luka-luka.



4.2 Solusi

Solusi yang dapat kami berikan :
1.      Untuk menyeimbangkan volume kendaraan Sebaiknya pada saat perawatan jembatan, volume kendaraan dibatasi dati titik awal jembatan dan menutup semua jalur yang sedang dilakukan perawatan mulai dari tepi awal jembatan sampai tepi akhir jembatan, hal ini memungkinkan kendaraan melintasi satu jalur yang terdiri dari dua lajur yang belum dilakukan perawatan. Gunakan lajur kiri sebagai pengganti jalur kiri dan lajur kanan pengganti pengganti jalur kanan, dengan hal ini keseimbangan beban kendaraan akan tercapai.
2.      Sebaiknya Diadakan Pembatasan volume kendaraan terutama pada saat diadakan perawatan. Pada saat perawatan, maka ada penutupan jalur yang megakibatkan kemacetan pada kendaraan, kemacetan kendaraan ini dapat berakibat buruk jika ditambah beban angin, serta beban kendaraan berat pekerja perawatan Jembatan.
3.      Dalam perawatan jembatan perlu juga memperhatikan kondisi cable, baut dan pondasi tiyang penyangga. Artinya perawatan tidak hanya pada jalan atau kondisi baloknya saja, tetapi juga memperhatikan kondisi yang mendasar dari jembatan. 

4.3 Saran

Dalam pembangunan, tidak hanya melihat desain secara tampaknya saja, melainkan perlu dilihat dari kualitas bahan yang digunakan. Selain itu, perlu diadakan pengecekan saat pekerja membaca gambar desain.